Terima kasih

August 6, 2007 at 2:34 am (tjrito)

“Terima Kasih”

Alias matur nuwun dalam bahasa jawa. Kalo orang bule bilangnya thank you. Begitu singkat dan sederhana. Tapi kalo diucapkan dengan tulus, sungguh dalam rasanya. Biasanya kata tersebut diucapkan orang pada lawan bicaranya, apabila dia merasa orang tersebut telah melakukan kebaikan kepadanya. Seperti memberi hadiah, membantu kerjaan, atau sekedar ngasih ucapan selamat.

Terima kasih. Meski pendek dan mudah, tapi ada saja yang sulit mengucapkan. Ga usah nebak jauh-jauh, saya sendiri termasuk pelakunya. Bukan berarti pelit kata, mungkin emang karena tidak biasa dan menjadi kebiasaan. Tapi ada satu catatan, kata maturnuwun tersebut jarang sekali saya ucapkan untuk orang terdekat. Jika dengan orang lain, mudah sekali mulut ini bilang, ”suwun ya, catetanmu wis tak balekke”. Atau ” makasih ya, dah mau nganterin aku”.

Lain teman lain juga dengan saudara. Lain orang mesti lain ceritanya. Kebaikan, perhatian, kemudahan, tidak hanya datang lewat orang lain, tapi juga dari orang di rumah. Justru dengan merekalah tiap hari berinteraksi langsung. Dan lebih banyak kebaikan yang datang. Waktu pulang kuliah, badan capek kepanasan, masuk rumah langsung nyuruh ade beliin es teh. Tiga menit es teh datang, langsung serobot minum dan ga bilang terima kasih. Habis maen bola, baju dan celana kotor langsung ditumpuk di ember cucian, besok siang sudah rapih terseterika, udah tau kakak yang cape ngerjain, ga juga bilang terima kasih. Badan meriang kehujanan, minta dikerokin ma Ibu. Padahal Ibu udah cape habis rewang dan arisan PKK, kerokan selesai, badan hangat, tetep ga bilang terima kasih. Waktu kena diare, Bapak yang masih tidur saya bangunin buat nganter ke belakang. Dibela-belain ngantuk sambil nungguin, setelah selesai hajat, ga ada sama sekali ucapan terima kasih. Terima gaji pensiunan, Simbok langsung saya todong beli mie ayam. Uang 500 rupiah masuk kantong. Sepeda sudah dikayuh ke warung, tapi lupa (tidak) bilang terima kasih.

Ah, masih banyak lagi kebaikan mereka yang jauh lebih besar dari itu. Bagaimana Ibu disengsarakan olehku sedari kecil. Bapak yang ikhlas mengucurkan keringatnya demi saya. Kakak yang rela mengurus keperluan sehari-hariku. Ade yang setiap menginjak-injak kakiku saat letih. Simbok yang kadang berjalan kaki beli mie ayam saat aku manyun. Tapi, semuanya belum pernah aku bilang terima kasih.

Kalau dicatat pake kertas kuarto, mungkin ucapan terima kasih yang saya ucapkan tidak sampe satu halaman. Itupun paling terlontar dalam candaan. ”aduuh, makasih,Mi ..aku wis wareg.!!” Atau ternyata saya malah belum pernah mengucapkan sama sekali. Astaghfirullah.

Sungguh ada pelajaran saya di perantauan. Saya sudah menemui sebuah keluarga. Suami, istri, kakak, ade..setiap ada kebaikan tak lupa bilang terima kasih. Dan ternyata benar, ucapan itu sungguh sejuk didengar, ”maturnuwun nggih mas..”. Ah, Saya jadi kangen pulang. Ingin bertemu dengan mereka. Hanya sekedar bilang “Terima Kasih”.

masepipit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: