Jamuan #2

August 6, 2007 at 3:01 am (tjrito)

Hari kedua di NTT. Sama dengan kemarin. Habis subuh dan siap-siap, kita kembali kerja di tujuan masing-masing. Kali ini saya bertugas ke kecamatan agak jauh. Target hari ini adalah dua kecamatan selesai. Biar besok tinggal satu kecamatan yang perlu dirampungkan. Dari petunjuk PPL, lebih baik saya menuju ke kecamatan Loli dan Katikutana, biar ga kejauhan. OK, saran saya terima dan berangkatlah petualangan kali ini.

Sebelum berangkat, saya sedikit bikin perjanjian dengan PPL. ”Pak, saya pengin cepet. Jadi usahakan kita tidak makan di tiap rumah”. ”Baik mas, kalo kita ngomong duluan, ga bakalan dijamu kok”. Walah pakdhe..pakdhe, kok baru ngomong saiki njenengan niku. Dengan ojeg sewaan, saya dibawa ke desa di atas gunung.

Ck..ck..ck.., subhanallah, baru di hari kedua ini saya ngerasa di NTT. Jalan menuju lokasi dikelilingi dengan padang rumput luas. Sesekali melewati bukit hijau kecil. Nampak di atasnya rumah-rumah adat sana berdiri megah. Kuburan-kuburan baru menghiasi halaman depan. Mamak (Ibu-Ibu) dengan kulit keriput dan bibir merah bergincu sirih nampak becanda dengan an**** dan babi mereka. Menurut si tukang ojeg, memang penduduk yang masih kolot gitu tinggalnya berkelompok di atas-atas bukit. Wah, betapa kayanya Indonesiaku.

Sekitar 45 menit baru tiba di lokasi. Kali ini memang benar-benar pelosok. Jauh dari keramaian. Penduduknya pada bawa pedang. Rokok dan sirih ga pernah lepas dari mulut mereka. Tapi tatap mata dan senyum bersahabat mereka suguhkan menyambut kedatangan saya. Seperti menyambut kedatangan pejabat dari Kota Negara..he..he..

Untung PPL pendampingku masih ingat dengan perjanjian sebelumnya. So, waktu kulanuwun dia sudah ngomong kalo keperluan kita cuma wawancara saja. Aman deh. Tapi dasar orang kampung (sama kaya di kampung saya), kalo ada tamu, pasti berusaha menjamu sebaik mungkin. Dan di adat mereka, suguhan paling layak untuk tamu adalah sirih pinang dan kopi panas. Khusus sirih pinang, tamu harus makan untuk sebagai tanda persahabatan dengan tuan rumah. Lha dalah, kali ini saya juga belum tau. Saya sudah nolak secara halus, tapi mereka memaksa. Untung lagi-lagi PPL ngasih tau saya..”gapapa mas, pegang aja sebagai syarat. Ga harus dimakan” Syukurlah…

Proses wawancara dan kuesioner hari kedua ini relatif lebih cepat. Cuma yang ga jauh beda dan bikin was-was adalah piaraan mereka. Banyangin aja, begitu masuk ke rumah, sudah disambut dengan an**** yang duduk di kursi tamu sambil menjulurkan lidah. Belum lagi kalo tuan rumah membelainya kemudian tangannya megang alat tulis dan kertas kuesioner. Lebih sedih lagi, babi pada sliweran di sela-sela meja tamu. Hiks..!!

Di hari kedua, saya bisa selesaikan sampai malam. Para peneliti di penginapan jadi pada kuatir. Jangan-jangan saya diculik dijadikan menantu kepala suku. Idih, makasih deh… hari ini saya selamat dari jamuan makan. Tapi perut saya kembung penuh dengan air kopi. Di setiap rumah yang didatangi, selalu minum kopi satu gelas. Untung ga mabok….??!

Hari ketiga. Saya dah ga mau ngulangi peristiwa dua hari yang lalu. Tapi gimana caranya masih belum ketemu. Terpaksa saya hanya pake perjanjian awal seperti kemaren. No eating. Titik.!!

Perjalanan dimulai ke desa dengan arah berlawanan. Kemarin ke arah kiri dari penginapan, sekarang ke arah kanan. Kejutan sungguh terjadi kali ini. Saya diajak ke rumah para tetua adat di sana. Wuiih, gurih tenan..!! Kesampaian juga keinginan saya untuk masuk ke rumah adat.

Tujuan pertama ke wakil kepala suku. Rumahnya jauh masuk ke dalam lewat hutan atas bukit. Tiba di tengah hutan, terlihat ada rumah besar. Atapnya terbuat dari rumbai-rumbai yang tebal. Tiang penyangganya semua dari kayu. Dinding tebal terbuat dari papan yang ditata rapih dengan sekat anyaman bambu. Teras rumah dibikin datar dengan balai-balai agak tinggi di ujungnya. Lantai dasar dibuat tinggi di atas tanah, karena di bawahnya untuk tidur dan makan ternak-ternaknya. Bener-bener super tradisional. Waktu mau masuk ke teras, saya liat di depan pintu, mamak dan anak-anaknya sedang makan buah nangka. Ga salah memang mereka makan bareng-bareng. Tapi ini beda, satu potong buah nangka dimakan rame-rame mamak dan anak, dengan sekali-kali si mamak nyuapin an****nya. Geleh…!!

Karena berkunjung di salah satu sesepuh suku, akses wawancara ini jadi agak kebantu. Dengan sedikit kuasanya, dia bisa ngontak ’rakyat’ nya yang ingin kami temui di wilayah lain. Cling..!! saat itu juga saya dapat ide. Setelah rumah itu, saya lobi PPL supaya ntar wawancara berikutnya ga di rumah penduduk, tapi ngumpul di sawah ato ladang. Yup, sepakaatt..!! alhasil, saya jadi lebih los untuk wawancara berikutnya.

Sesuai rencana, di hari ketiga beban ga begitu berat. Justru tambah bikin semangat. Kebaikan dan keramahan penduduk selalu mengalir. Di tengah wawancara di pinggir ladang, salah satu dari mereka rela manjat pohon nangka buat saya. Dan informasi yang saya perlukan lebih cepat diperoleh. Mereka lebih konsentrasi, lebih lugas, lebih santai. Dan bagi saya yang penting lebih tenang, jauh dari sirih, jauh dari air kopi, dan tentunya jauh dari babi dan an****.

Hari keempat. Sunrise keliatan indah sekali. Udara pagi begitu segar. Sesegar pikiranku yang sudah duluan terbang ke Jakarta. Hari ini adalah hari terakhir di NTT. Rombongan akan bertolak dari Waikabubak menuju selatan Kota Negara. Setelah sarapan, 2 mobil kijang mengantar tubuh-tubuh letih kami ke bandara. Wuss..rasa cape hilang setelah dibayar dengan pemandangan alam sepanjang perjalanan. Ga ada kesuntukan sama sekali. Mulai dari penginapan sampe bandara (kurang lebih satu jam perjalanan) ga ditemui lampu merah satupun. Apalagi mikir macet, jauh sekali. Jalan mulus beraspal. Mobil yang lewat bisa dihitung dengan jari. Kira-kira setiap sepuluh menit sekali, baru berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan. Sepi dan nyaman….

Tiba di waikabubak, bandara masih tutup. Rombongan kita yang pertama kali datang. Setelah setengah jam kemudian baru buka. Itu pun masih harus nunggu pegawainya beres-beres. Lucu juga, begitu datang, mereka baru sibuk masang speaker, HT, dan ngebuka saluran telepon. Harap maklum. Begitu pesawat tiba, rombongan langsung menyerbu ke pesawat. Kali ini pengalaman pertama saya naik pesawat dengan baling-baling. Ngeri juga, tapi para peneliti keliatan santai, saya jadi sedikit tenang. Ahh.., saya liat bangunan radar dari jendela pesawat. Kemudian di sana juga terlihat para pengantar yang berdiri berjajar. Entah mereka mengantar saudaranya yang mana. Yang pasti bukan saya. Dan saat pesawat mulai berjalan, orang-orang melambaikan tangannya. Saya pun hanya membalas dengan tatapan saja. Tatapan perpisahan. Tatapan selamat tinggal untuk pesona NTT.

masepipit

1 Comment

  1. rambu bhyta said,

    hehe lucu jg critanya..jd kangen sama sumba.. kebetulan saya asli sumba barat n lg kul di IKJ..hmmm jd pengen plg

    salam kenal buat rambu. makasih atas komentarnya teman. dalam cerita di atas, saya cuma pengin numpahin pengalaman saya saja. bukan bermaksud SARA, jadi saya mohon maaf kalo ada kalimat yang kurang Anda sukai, karena perbedaan adat dan kebiasaan itu membuat pengalaman menjadi lebih terkenang. masepipit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: